Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Azan dari Halaman Masa Kecil

189
×

Azan dari Halaman Masa Kecil

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Ketika Bupati Mimika Meresmikan Masjid Tertua dan Sejarah Pulang ke Kokonao

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID—
Pagi di Kokonao tak hanya membawa aroma laut dan desir angin pesisir. Ia juga membawa pulang kenangan—kenangan yang lama berdiam di sudut sunyi ingatan. Di hadapan masjid tertua Mimika Barat, langkah Bupati Mimika Johannes Rettob seakan melambat, bukan karena seremoni, melainkan karena sejarah sedang memanggilnya pulang.

Example 300x600

Masjid itu bukan sekadar bangunan ibadah. Ia adalah halaman masa kecil. Tempat azan pertama kali dikenali bukan sebagai suara, melainkan sebagai denyut kehidupan.

Masjid yang berdiri sejak 1966 itu—lebih tua dari banyak cerita pembangunan—hari itu diresmikan kembali setelah direnovasi. Namun yang diperbarui bukan hanya dinding dan atap. Yang dipulihkan adalah ingatan kolektif sebuah komunitas, dan potongan masa kecil seorang pemimpin daerah.

“Masjid ini dulu berdiri persis di depan rumah kami,” ucap Johannes Rettob lirih namun penuh getar.
“Setiap hari, suara azannya menjadi bagian dari hidup kami.”

Masjid, Alam, dan Musyawarah

Waktu dan alam tak selalu ramah. Perubahan kondisi geografis pesisir memaksa umat Muslim Kokonao mengambil keputusan besar: memindahkan masjid ke Kampung Migiwia. Keputusan itu bukan lahir dari paksaan, melainkan dari musyawarah dan kebersamaan—sebuah pelajaran sosial yang jauh mendahului istilah pembangunan partisipatif.

“Karena kondisi alam yang tidak memungkinkan, umat Muslim Kokonao sepakat memindahkan masjid ini. Itu bukan keputusan mudah, tapi penuh kebersamaan,” tutur Bupati Rettob.

Di sanalah masjid itu berdiri hingga hari ini—sebagai saksi bahwa iman dan nalar bisa berjalan seiring, dan bahwa keberlangsungan ibadah sering kali ditopang oleh kearifan lokal.

Azan yang Membesarkan Karakter

Ingatan Johannes Rettob melompat pada satu sosok: Letjen (Purn) Ali Hamdan Bogra. Seorang tokoh yang bagi banyak orang adalah nama, tetapi bagi anak kecil di Kokonao adalah suara.

“Waktu saya masih kecil, hampir setiap waktu salat Pak Hamdan Bogra yang mengumandangkan azan,” kenangnya.
“Itu teladan. Azan itu mendidik kami tanpa ceramah.”

Azan-azan itulah yang pelan-pelan membentuk karakter, menanamkan disiplin, dan mengajarkan toleransi dalam masyarakat majemuk Mimika—jauh sebelum istilah moderasi beragama ramai dibicarakan.

Masjid sebagai Ingatan Kolektif

Masjid tertua ini berdiri bukan hanya sebagai ruang sujud, tetapi sebagai arsip hidup masyarakat Mimika Barat. Ia menyimpan cerita tentang kebersamaan lintas suku, tentang iman yang tumbuh di pesisir, dan tentang Mimika yang sejak lama belajar hidup dalam harmoni.

Renovasi yang dilakukan hari ini menjaga struktur bangunan, namun juga merawat nilai historisnya. Dindingnya diperkuat, tetapi ruhnya tetap dijaga.

Bupati Mimika menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak—pemerintah daerah, tokoh agama, hingga masyarakat—yang telah bergotong royong menghidupkan kembali masjid ini.

“Semoga masjid ini terus menjadi pusat ibadah, pembinaan umat, dan simbol persaudaraan di Mimika,” harapnya.

Negara Hadir hingga Pesisir

Peresmian ini turut dihadiri Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, anggota DPRK Mimika Primus Natikapereyau, tokoh Muslim Kokonao H. Iwan Anwar, Danramil setempat, serta jajaran OPD Pemkab Mimika. Kehadiran mereka menegaskan satu pesan: sejarah dan pembangunan tak boleh berhenti di pusat kota—ia harus hadir hingga pesisir.

Acara ditutup dengan doa bersama. Doa yang tak hanya dipanjatkan untuk bangunan yang rampung direnovasi, tetapi juga untuk Mimika yang terus tumbuh dalam keberagaman.

Dan di Kokonao, di antara desir angin laut dan suara doa, masjid itu kembali berdiri—bukan sekadar sebagai rumah Tuhan, tetapi sebagai rumah ingatan.

 

Example 300250