Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasional

Di Ujung Timur Cahaya Menyala: Ketika Energi Negara Menjaga Natal Papua

167
×

Di Ujung Timur Cahaya Menyala: Ketika Energi Negara Menjaga Natal Papua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAYAPURA |LINTASTIMOR.ID  —
Di tanah yang menyimpan embun perbatasan dan doa-doa panjang para nelayan, energi bukan sekadar angka dalam tangki. Ia adalah nadi. Ia adalah jaminan hidup. Dan di penghujung Desember, ketika lonceng Natal berdentang bersamaan dengan desir angin Pasifik, negara datang memastikan cahaya tetap menyala di ujung timur Indonesia.

Hari itu, 28 Desember 2025, Jayapura menjadi saksi sebuah perjalanan sunyi namun menentukan. Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku bersama Ketua Posko Nasional Satgas Nataru Sektor ESDM 2025/2026 sekaligus Komite BPH Migas, Erika Retnowati, didampingi Tenaga Ahli Menteri ESDM Mulyono, menelusuri denyut layanan energi—dari pesisir nelayan hingga tapal batas negeri.

Example 300x600

Bukan seremoni. Bukan kunjungan simbolik. Ini adalah pengecekan langsung: menyentuh, melihat, mendengar, dan memastikan.

Energi di Perbatasan: Negara Hadir Tanpa Tawar-Menawar

Di SPBU Satu Harga Skouw, hanya selempar doa dari perbatasan Papua Nugini, negara membuktikan bahwa keadilan energi tak mengenal jarak. Di sini, BBM bukan lagi barang mahal yang harus ditebus dengan perjalanan berjam-jam, melainkan hak dasar yang mendekat ke rumah-rumah warga.

“SPBU Satu Harga ini sangat bermanfaat. Jarak terdekat ke SPBU reguler sekitar 20 kilometer. Kehadirannya membuat masyarakat jauh lebih mudah mendapatkan BBM,” tutur Erika, suaranya tenang namun tegas—seperti seseorang yang memahami bahwa pelayanan publik adalah soal martabat.

Perjalanan berlanjut ke SPBU Nelayan Hamadi. Di tempat ini, laut dan solar bertemu dalam ikatan paling jujur: kerja keras. Nelayan berdialog langsung, tanpa jarak birokrasi.

“Dengan adanya SPBUN, nelayan sangat terbantu. Harga Pertalite Rp10 ribu dan Solar Rp6.800 memberi nafas bagi kehidupan mereka,” ujar Erika, menegaskan bahwa kebijakan yang baik selalu terdengar dari suara rakyat kecil.

Ketahanan Energi: Diam-diam Tapi Menentukan

Di SPBU Reguler Entrop, angka berbicara lantang. Omzet harian sekitar 40 kiloliter—sebuah indikator betapa vitalnya simpul energi ini bagi mobilitas Jayapura. Namun stok aman. Tidak ada kepanikan. Tidak ada antrean panjang. Sebab di belakang layar, sistem bekerja.

Puncak monitoring dilakukan di Integrated Terminal (IT) Jayapura. Di sinilah strategi ketahanan energi diuji. Stok BBM telah dibangun hingga 15 hari, sebuah angka yang tinggi untuk terminal di Indonesia Timur—wilayah dengan tantangan geografis dan cuaca yang tak bisa dinegosiasikan.

“Untuk ukuran terminal BBM di Timur, ini sangat baik. Stok aman hingga tahun baru,” tegas Erika.
Ia menambahkan refleksi penting:

“Kapasitas tanki yang besar bukan hanya soal cadangan, tetapi tentang ketahanan energi, efisiensi biaya distribusi, dan jaminan layanan di wilayah kepulauan dan pegunungan seperti Papua dan Maluku.”

Bahkan ketika isu siklon tropis sempat menghantui Papua, distribusi tetap berjalan. Negara, kali ini, tidak goyah oleh cuaca.

Natal, Energi, dan Pelayanan yang Menjaga Kehangatan

Natal di Papua bukan hanya perayaan iman, tetapi juga pergerakan manusia. Mobilitas meningkat. Konsumsi energi melonjak. Dan di sinilah peran Satgas Nataru menjadi krusial.

Direktur Pemasaran Pusat & Niaga Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso, menegaskan komitmen itu:

“Di Papua, peningkatan kebutuhan BBM dan Avtur cukup tinggi dibanding wilayah lain. Karena itu stok kami jaga dengan ketahanan 10 hingga 12 hari, disuplai secara berkala.”

Namun bagi Pertamina, ketersediaan saja tidak cukup. Ada satu janji yang tak bisa ditawar: tepat kualitas dan tepat takaran.

Dalam pengecekan ini, Pertamina Patra Niaga menggandeng Lemigas, balai besar pengujian pemerintah di bawah Kementerian ESDM. Uji kualitas dan kuantitas dilakukan langsung di SPBU.

“Hasilnya memenuhi standar. Kualitas sesuai parameter, takaran akurat. Alat ukur juga rutin ditera ulang,” jelas Alimuddin.

Ia menutup dengan sebuah pernyataan yang menenangkan publik:

“Masyarakat Papua tidak perlu ragu. Produk BBM yang disalurkan memenuhi standar nasional. Ini komitmen kami di seluruh Indonesia.”

Catatan Akhir: Energi Sebagai Bahasa Kehadiran Negara

Di akhir kunjungan, Erika Retnowati menyampaikan apresiasi—bukan sekadar pujian, tetapi pengakuan atas kerja sunyi yang jarang terlihat.

“Kami mengapresiasi Pertamina Patra Niaga yang telah bersiaga dengan baik selama Natal dan Tahun Baru. Layanan ini bukan hanya untuk momen Satgas Nataru, tetapi harus terus dijaga sebagai standar pelayanan negara.”

Di Papua, energi bukan hanya bahan bakar. Ia adalah penerang Natal, penggerak ekonomi, dan penanda bahwa negara hadir—bahkan di titik paling timur peta.

Dan selama tangki terisi, pompa berdetak, dan pelayanan dijaga dengan nurani, cahaya Indonesia akan terus menyala—dari Jayapura, untuk seluruh negeri.

 

Example 300250