ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID–Tidak semua perjalanan dimulai dengan langkah kaki. Sebagian dimulai dengan restu.
Dan pada hari Sabtu 27 Desember 2025 yang hening itu, Piche Kota melangkah bukan sekadar memasuki sebuah rumah adat—ia memasuki ingatan leluhur.
Di bawah atap Umaleon/Wilaen, rumah adat yang dipercaya sebagai rahim sejarah dan roh penjaga garis keturunan, Piche Kota berdiri dengan busana adat Belu yang lengkap. Di kepalanya, mahkota adat terpasang perlahan oleh tangan-tangan sepuh—tangan yang telah lama mengenal doa lebih dari kata-kata dari Penjaga rumah adat Kristina Liu
Maria Made
Anastasia Tahan.
Hari itu bukan seremoni biasa. Ia adalah perjumpaan antara yang hidup dan yang telah lama menjaga dari balik waktu.
Umaleon: Rumah yang Tidak Pernah Kosong
Bagi masyarakat Belu, Umaleon bukan sekadar bangunan kayu dan anyaman. Ia adalah titik temu antara dunia kasat mata dan yang tak terucap. Di sanalah leluhur diyakini masih duduk, mendengar, dan menimbang niat setiap anak cucu.
Masuk ke Umaleon berarti membuka diri—bukan untuk dipuji, tetapi untuk diuji.
Piche Kota datang dengan pakaian adat yang menutup tubuh, namun membuka makna: kain tenun yang memeluk pinggang, kalung adat yang menggantung di dada, dan simbol-simbol yang tidak pernah netral. Setiap motif adalah kisah. Setiap simpul adalah janji.
Ia tidak membawa pidato.
Ia membawa niat.
Berkat yang Tidak Pernah Diumumkan
Prosesi berlangsung dalam kesunyian yang sakral. Para tetua adat, terutama perempuan-perempuan tua—penjaga ingatan paling setia—mengelilinginya. Doa dilantunkan lirih, nyaris seperti bisikan angin.
Di saat mahkota adat dipasangkan, waktu seolah berhenti.
Yang hadir tidak hanya yang terlihat.
“Masuk rumah adat bukan soal status, tapi soal kesiapan jiwa menerima titipan leluhur,”
ucap seorang tetua dengan suara yang lebih tua dari usianya.
Berkat tidak diumumkan dengan tepuk tangan.
Ia turun perlahan, seperti embun—dingin, hening, dan mengikat.
Mitos, Musik, dan Jalan Pulang
Sebagai musisi dan anak budaya, Piche Kota memahami bahwa panggung terbesar bukanlah lampu sorot, melainkan kepercayaan yang diwariskan tanpa kontrak tertulis.
Masuk Umaleon adalah bentuk pengakuan bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah ke dunia modern, ia tetap memiliki jalan pulang. Dan jalan pulang itu bernama adat.
Dalam mitologi Belu, leluhur tidak menuntut kesempurnaan—mereka menuntut kejujuran pada asal-usul.
Hari itu, Piche Kota tidak meminta kekayaan, popularitas, atau tepuk puja.
Ia memohon arah.
Ketika Tradisi Menjadi Nafas Masa Depan
Di tengah zaman yang serba cepat dan gaduh, peristiwa ini adalah pengingat bahwa kebudayaan tidak pernah mati—ia hanya menunggu dipanggil dengan hormat.
Masuknya Piche Kota ke Umaleon/Wilaen bukan sekadar peristiwa personal, tetapi isyarat kolektif: bahwa generasi hari ini masih mau mendengar bisikan nenek moyangnya.
Dan selama masih ada anak muda yang bersedia menunduk di hadapan adat,
Belu tidak akan kehilangan rohnya.
“Leluhur tidak pernah pergi. Mereka hanya menunggu kita pulang dengan hati yang jujur.”


















