ATAMBUA |LINTASTIMOR ID) – Malam terakhir Agustus 2025 di Lapangan Simpang Lima Atambua akan tercatat dalam ingatan rakyat Belu.
Semarak kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia ditutup dengan gegap gempita, dan nama yang paling lantang disebut ialah Piche Kota.
Dari panggung besar yang diterangi cahaya merah-putih, suara emas putra perbatasan itu mengalun, membelah langit malam. Ribuan warga tumpah ruah, dari anak kecil hingga orang tua, berdesakan demi menyaksikan sang idola yang selama ini hanya mereka dengar lewat layar kaca dan alunan musik di radio.
“Ini bukan sekadar konser, ini pulang kampung, kembali mengakar pada tanah yang membesarkan saya,” ucap Piche Kota sebelum naik panggung, menyiratkan kerendahan hati di balik sorot matanya yang penuh api.
Tak hanya Piche, malam itu juga disemarakkan oleh Hananu Hamutuk Band, The Thanos Band, Con Fiesta Choir, hingga MaVia Skuad. Lengkap sudah pesta rakyat. Suling bambu dan tarian kreasi pelajar Don Bosco menambah aura tradisi yang berpadu mesra dengan dentum musik modern.
Lapangan Simpang Lima, yang siang hari menjadi pusat lalu lintas dan hiruk pikuk warga Atambua, menjelma menjadi samudra manusia. Bendera berkibar, sorak-sorai bergema, dan lagu-lagu cinta serta perjuangan yang dilantunkan Piche Kota menjadi jembatan antara generasi tua dan muda.
Malam itu, Atambua tidak hanya merayakan kemerdekaan bangsa, tetapi juga merayakan lahirnya seorang anak daerah yang kini berdiri di panggung nasional, lalu pulang untuk menyalakan api kebanggaan di dada rakyatnya.
“Piche bukan hanya penghibur, ia adalah simbol harapan. Dari Belu, untuk Indonesia,” bisik seorang penonton sambil mengibaskan bendera kecil merah-putih.
Dan benar adanya, di bawah langit Timur yang penuh bintang, Atambua bergetar: bukan oleh dentum musik semata, tetapi oleh rasa bangga yang menggelegar.
Hari ini, Piche Kota tiba di Kota Atambu,” ucapan Mama Piche Kota ,Ida Mau Luan saat dihubungi Redaksi Lintastimor.id, Sabtu (30/8/2025) pagi.