ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID — Di sebuah sudut sunyi perbatasan, ketika malam turun tanpa ampun dan gelap menjadi satu-satunya teman setia, dua dusun di Desa Mandeu Raimanus masih menunggu sesuatu yang bagi sebagian besar bangsa ini sudah menjadi hal biasa: listrik. Dari tahun 1945 hingga 2026, waktu seolah berjalan tanpa pernah membawa terang ke Dusun Fatuaruin dan Bekotaruik.
Di tengah hamparan sunyi itu, berdiri sebuah sekolah dasar—SDI Bekotaruik—yang tetap setia menyalakan harapan, meski tanpa cahaya listrik yang layak. Anak-anak belajar dalam keterbatasan, sementara dunia di luar sana melaju dengan kecepatan yang nyaris tak terkejar.
Suara itu akhirnya pecah dalam bentuk surat terbuka. Sebuah seruan lirih namun penuh harap yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, .
Surat itu ditandatangani oleh Ketua BPD Desa Mandeu Raimanus, Dominikus Bau Fahik, yang juga menjadi narasumber dalam jeritan sunyi masyarakatnya.
Ia tidak berbicara dengan nada marah, melainkan dengan keteguhan yang lahir dari penantian panjang.
Di tengah geliat pembangunan nasional dan gaung program elektrifikasi yang terus dikumandangkan, kisah dua dusun ini menjadi cermin yang memantulkan kenyataan lain: bahwa pemerataan belum sepenuhnya menjangkau setiap jengkal negeri. Ketika jaringan listrik sudah berada di ambang kampung, namun tak kunjung masuk, persoalan bukan lagi sekadar teknis, melainkan menyentuh dimensi keadilan pembangunan.
Dan malam di Fatuaruin serta Bekotaruik pun terus berulang—gelap, panjang, dan setia menguji kesabaran. Hingga suatu hari nanti, mungkin, 950 meter itu benar-benar dilalui oleh cahaya.


















